PPDB Zonknasi Solusi Cerdas membuat Generasi Bodoh

Kita tahu ide Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SD,SMP,SMA, SMK dimulai tahun 2017 oleh pejabat di Bandung lalu diimplementasikan ke seluruh Indonesia. Alasannya: Menghapus sekolah favorit, menghilangkan kasta, pemerataan pendidikan, kemacetan lalu lintas dll. Kita tahu pula keputusan para pejabat itu berdasar masukan ilmuwan - ilmuwan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang sudah melakukan studi banding ke negara - negara maju. Kita sebagai orang tua siswa tidak kompeten berbicara tentang pendidikan dibanding mereka, namun kitalah yang paling merasakan kesusahan akibat PPDB Zonk..eh Zonasi

Itu harapannya, lalu ini kenyataannya setelah 5 tahun berjalan

  1. Favorit. Yang dulu sekolah favorit kini tetap favorit. Salah satu penyebab sekolah menjadi favorit adalah lokasinya yang strategis dan kondusif / nyaman. Tidak selalu karena gurunya hebat atau fasilitas lengkap. Orang tua tentu memilih sekolah yang jauh tapi mudah diakses daripada sekolah dekat tapi sulit diakses apalagi kumuh. Upaya pemerintah untuk merolling kepala sekolah dan guru tidak lantas membuat sekolah yang diembannya menjadi favorit.
  2.  Kemacetan Lalu Lintas. Saat jam masuk sekolah sejak dulu sampai sekarang tetap macet. Yang membuat macet adalah mobil bukan sepeda motor. Coba anda perhatikan di dalam mobil pribadi, paling hanya ada 1 atau 2 penumpang. Jok tengah dan belakang kosong yang mengambil ruang jalan. Merekalah penyumbang macet terbesar, bukan anak sekolah yang naik motor atau angkot!
  3.  Si Kaya dan si Miskin. Orang kaya pasti pintar, yang miskin pasti bodoh? Orang kaya akan mengambil porsi pendidikan si miskin? Saya rasa tidak selalu begitu. Orang kaya banyak juga godaannya seperti game online, perjudian, narkoba, musik, utak atik otomotif dan benda –benda yang menyita waktu belajarnya. Orang miskin tetap bisa mengakses pendidikan di luar sekolah via perpustakaan keliling, madrasah, Wifi Gratis, belajar kelompok dll. Siswa dengan jam terbang belajar tinggi, maka nilai akademisnya pun tinggi. Bukan lagi status kaya dan miskin!   
  4.  Pembodohan.  Dulu, orang tua kita semangat agar anaknya mendapat nilai terbaik dan rangking 10 besar. Karena jika nilai baik maka cita-citanya tercapai. Sekarang? Buat apa capek capek belajar, karena keberhasilan ditentukan oleh jarak rumah ke sekolah. Dengan matinya semangat belajar maka generasi di masa mendatang sangat lemah secara akademis sehingga negara akan sangat mudah dijajah alien!.
  5.  Birokrasi makin RumitKarena jarak lebih penting daripada prestasi akademis, otomatis lembaga bimbingan belajar sepi siswa dan akhirnya gulung tikar. Yang ramai adalah antrian di kelurahan untuk mengubah kartu keluarga (KK) agar dekat ke sekolah yang bakal dituju. Di sana bermainlah oknum RT, RW, Lurah dan Camat untuk memperlancar perubahan KK sementara. Di sini anda perlu uang pelicin agar segalanya berjalan lancar.
  6.  Menghilangkan kasta pendidikan? Yang saya tahu dari presentasi Ridwan Kamil ada 4 kasta: 1. Kaya Pintar, 2. Kaya Bodoh, 3. Miskin Pintar, 4. Miskin Bodoh. Yang diperjuangkan adalah yang terakhir, Miskin Bodoh karena rawan putus sekolah dan jadi preman. Untuk no 2 tidak masalah karena bisa ke sekolah swasta. Untuk hal ini saya setuju menyediakan ruang untuk kasta 4 tetapi jangan sampai mengorbankan kasta lain. Apalagi pernah kejadian PPDB jalur tidak mampu / SKTM kuotanya 80% sedangkan prestasi nilai 10%. Tentu saja anak yang berprestasi akademis, frustrasi dikalahkan oleh siswa bodoh dan miskin. Karena hal ini siswa dengan nilai rapor baik di tewas gantung diri, cerita jelasnya di sini.

Lalu bagaimana baiknya?

  • Kembalikan ke sistem prestasi akademik seperti dulu. Nilai akademik bisa dari rapor, ujian negara atau gabungannya. Apakah orang tua dulu keberatan dengan sistem tersebut? Justru ortu banyak protes sejak Zonasi dan SKTM karena aturannya rumit meskipun orang tua lulusan MIT sekalipun. Sehingga sekolah harus sering mengadakan sosialisasi. 
  • Lalu bagaimana dengan siswa yang miskin? Jika miskin pintar sih, tidak masalah. Siswa kaya bodoh akan menerima kekalahan melawan si miskin pintar. Bagi siswa miskin bodoh tetap ada peluang masuk sekolah negeri dengan jalur SKTM. 
  • Prestasi Lomba? Siswa berprestasi non akademik perlu juga diberi penghargaan pada PPDB misal tambahan nilai atau beasiswa. Siswa ini bisa mengharumkan nama sekolah, tetapi tidak perlulah dibuatkan jalur khusus untuk itu 
  • Komponen jarak tidak perlu diikutsertakan karena tiap orang tua punya pertimbangan tersendiri tentang ‘jarak’. Meski jauh tapi jika searah dengan kantor orang tua maka jarak bukan lagi pertimbangan. Adakalanya sekolah jauh tapi bisa 1x naik angkot daripada sekolah dekat tapi harus 3x naik angkot. 

Penutup

  • Saya rasa para petinggi pendidikan dan pejabat pemerintahan belum perlu menerapkan PPDB Zonasi. Tidak perlu ikut – ikutan negara maju karena di sini beda karakter dan geografis. 
  • PPDB Zonasi yang rumit dan sulit membuat pertempuran menjadi tidak menantang dan tidak menyenangkan. Sekolah adalah tempat bermainnya otak dan akhlak bukan jarak!
  • Jika PPDB kembali ke sistem prestasi akademis, putra putri kita akan lebih menghargai ilmu, kompetitif dan bermental sportif. Sekolah menjadi simulasi hidup untuk menjalani hidup yang sebenarnya setelah lulus.
  • Terima kasih telah membaca opini bodoh ini. Jika anda tidak setuju silakan buat opini tertulis tandingan tanpa membahas pribadi penulis. 

Hidup Persib!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salah Transfer BCA, Modus Penipuan?

Komentar Rumah Hantu Yogya Kepatihan Bandung

Kalender 2016 Download Gratis Fomat Vector PDF & CDR Coreldraw