Rabu, 04 Mei 2016

Membuat SIM C tanpa Calo? Siapa Takut ??

Sebagai warga bandung yang baik dan anti KKN, saya mengantar anak saya yang perempuan untuk membuat SIM C di Poltabes Bandung jl.Jawa nomor lupa lagi. Kamipun parkir motor di trotoar yang katanya khusus untuk pejalan kaki, dengan membayar Rp.2.000,-.  Ternyata tukang parkirnya sangat ramah: "Ada yang bisa dibantu?"...... "Iya pa, tolong bantu jaga motor saya baik-baik", jawab saya pura pura bego.


Saat masuk gerbang kami dicegat dan diinterogasi Polisi:
"Mau apa pak?",
"Mau buat SIM C, pak polisi"..... (Masa mau bikin gara2, pikir saya)
"Mau kami bantu?
"Terima kasih pak, tolong bantu jaga keamanan baik2 pa" jawab saya pura pura pinter
"Ada keterangan sehat dari dokter?
"Belum pak, dimana dapetin surat keterangan sehatnya?"
"Bapak ke jalan ke ujung sana lalu menyeberang, di dekat bimbel X masuk lagi sampai pojok, belok kanan lalu ketemu tukang baso setelah itu naik di gang sempit ada rumah yang ga ada nomornya, masuk aja tapi jangan lupa siapin fotokopi KTP anak bapak"
"Ok Siap pa!" (sambil pura pura ngerti)


Setelah susah payah mendapatkan surat keterangan sehat seharga Rp.40.000,-, kami kembali ketemu Polisi tadi sambil memperlihatkan surat tsb. Dengan wajah cemberut Polisi tadi mempersilahkan kami masuk ke Loket 1 yang judulnya Pendaftaran.


Di Loket 1 kami dimintai keterangan lagi dan diarahkan ke Loket 3 untuk difoto. Di Loket ini antriannya cukup (tepatnya : sangat) panjang. Di sini mahasiswa, pengusaha supir angkot dan penjahat terlihat sabar. Sangat terasa suasana Bhineka Tunggal Ika, meski berbeda tetapi tetap satu tujuan yaitu membuat SIM. Para pemohon SIM tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu sambil nonton TV LED yang memutar film semut perang karena antena kurang pas. Situasinya seperti gambar di bawah ini.





Akhirnya nama anakku pun dipanggil untuk difoto dengan buru-buru. Setelah itu saya membayar uang pembuatan SIM C sebesar Rp.100.000,- yang saya bayar tunai. Kamipun disuruh untuk ke Loket 5 untuk membayar Asuransi sebesar Rp.50.000,- . Jadi sampai saat ini uang keluar: Rp.2000 + Rp.40.000 + Rp.100.000 + Rp. 50.000 jadi total Rp.192.000,-.


Langkah kami selanjutnya adalah ke Ruang Ujian Teori yang juga antri seperti ini. Ujian Teorinya menggunakan komputer terkini dengan OS Windows 8.1 yang ribet. Untung anak saya jago main game jadi terbiasa klik-klik di layar. Pemohon lain yang ndeso dan sudah uzur, tampak kesulitan memegang mouse sehingga yang diklik selalu tombol Close. Meski anak saya termasuk pintar (langganan rangking 5 besar) di kelasnya dan sudah latihan soal2 di internet, ternyata tidak menjamin lulus ujian SIM C. Selain soal yang cenderung cocok untuk montir motor, waktunya singkat (15 menit), Polisi pengawas ujian pun tidak henti-hentinya menjelaskan aturan ujian yang sudah sangat jelas. Jawaban anak saya hanya benar 17 dari 30 soal, anakku pun harus mengulang / her minggu depan. Catatan: Agar lulus minimal 21 jawaban benar





Singkat cerita kamipun datang lagi minggu depan. Tidak lupa parkir seperti biasa di Trotoar dan bayar Rp.2.000,-


Alhamdulillah pada Ujian Teori kali ini anak kami lulus nilai 24 dari 30 soal. Itu berkat pengalaman sebelumnya dan bisikan dari Bapak Polisi yang baik (tepatnya: kasihan) pada anak kami yang bolak balik Ujian Teori.
Setelah jingkrak-jingkrak kegirangan kami masuk ke ruang Simulasi yang sepi. Untuk itu digunakan motor (nyaris) gede seperti kawasaki Ninja seperti terlihat di foto. Anakku yang perempuan ini harus bisa mengendalikan sepeda motor tsb, seperti kopling, rem, gas dan body yang besar. Setelah beberapa kali dilatih, tetap sulit mengendalikan sepeda motor tsb apalagi mematuhi aturan lalu lintasnya. Akhirnya anakku terpaksa tidak lulus karena pada simulasi sering melewati garis, melabrak lampu merah, naik trotoar dan menggilas anak-anak.





Kamipun diminta kembali minggu depan untuk berlatih simulasi sepeda motor besar tsb. Karena anak saya tidak pernah main game motor balap di Game Master, jadinya pesimis bisa lolos ujian Simulasi tsb. Sambil istighfar dan introspeksi diri, niat untuk menjadi warga yang baik dan bebas KKN, kami batalkan. Dengan hati yang tulus tanpa ada niat riya, saya memberi infaq / shodaqoh (bukan uang suap lho!) sebesar Rp. 350.000,- kepada petugas agar SIM bisa beres hari ini tanpa ada ujian apapun lagi.





Saat ini dompet kami sudah terkuras sampai Rp.550.000 lebih. Sehingga rencana nonton di Bioskop film "Batman Vs Preman" terpaksa batal demi hukum. Padahal kalau sejak awal mau bayar calo sih cuma habis Rp.500.000,- saja. Di Loket terakhir yaitu Loket 8 yang berjudul pengambilan SIM ASLI (Catatan: SIM PALSU ada di loket 13), kami menunggu lagi yang ketiga kalinya. Kali ini proses tunggu lebih lama, tetapi kami nikmati saja sambil ngobrol2 dengan pemohon lainnya yang sejak awal sudah mempercayakan pada calo.





Jika SIM diterima pemohon, ada tombol yang tersedia. Tombol Merah jika tidak puas, Biru untuk puas dan Hijau untuk sangat puas. Bapak polisi membantu mengingatkan sambil mengarahkan untuk memijit tombol Biru. Setelah SIM jadi, maka tanpa ragu-ragu anakku menekan tombol warna.... (anda tentu bisa menebaknya, bukan?)


Akhirnya kami bisa meninggalkan kantor polisi dengan bahagia karena lolos ujian teori, meski tidak lolos ujian Simulasi dan tidak ikut ujian Praktek. Untuk anda yang ingin menjadi warga negara yang baik dan bebas KKN, saya ucapkan Good Bye! ......ehhh.... Good Luck!....... Hidup Persib!!!